Coba Bohong di Bale Gede Wijaya, Kamu Bisa Kena Malapetaka

0
70

Cirebon – Situs Bale Gede Wijaya di Cirebon dijadikan sebagai tempat mengambil sumpah dari sejak zaman kolonial. Konon, yang berbohong di tempat ini bisa kena musibah.

Sumpah, seringkali dipakai untuk membuktikan benar tidaknya sesuatu. Di Cirebon, ada situs keramat yang dijadikan sebagai tempat pengambilan sumpah, yakni situs Bale Gede Wijaya.

Situs ini masuk wilayah Desa Kedongdong, Kecamatan Susukan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Lokasi Bale Gede berada di belakang Balai Desa Kedongdong. Bale Gede terbuat dari kayu, panjangnya sekitar 3×1 meter. Pagar besi warna hitam mengelilingi Bale Gede.

Konon, Bale Gede menjadi tempat pengambilan sumpah sejak zaman kolonialisme. Situs tersebut memiliki enam tiang penyangga.

Juru kunci Bale Gede, Wijaya Kalil (55) mengatakan, tiang tersebut melambangkan jabatan aparatur pemerintahan desa. Ia mengatakan usia Bale Gede sudah ratusan tahun. Menurutnya Bale Gede mulai difungsikan dan dikeramatkan oleh masyarakat sekitar abad 18, tepatnya pada zaman Ki Bagus Rangin.

“Bale ini fungsinya buat sumpah. Kalau ada orang kehilangan benda atau apapun, kemudian menuduh orang lain. Maka orang yang menuduh dan yang dituduh itu sumpahnya diambil di sini. Bukan soal kehilangan saja, banyak. Intinya yang merugikan orang lain,” kata Kalil saat ditemui di Bale Gede, Rabu (17/1/2018).

Kalil menceritakan Bale Gede memiliki mistis yang kuat. Bagi orang yang dituduh, namun tak mengaku saat disumpah, padahal orang tersebut melakukan hal yang merugikan bagi orang lain akan mendapat musibah. Biasanya, sambung Kalil, orang tersebut akan mengalami sakit yang parah.

“Sebaliknya juga begitu. Kalau yang dituduh itu tidak terbukti bersalah, maka orang yang menuduhnya itu yang akan mendapatkan musibah. Sumpahnya diambil di Bale Gede ini,” ucapnya.

15 tahun lebih Kalil menjadi juru kunci Bale Gede. Saat dirinya diangkat jadi juru kunci, Bale Gede sudah tak difungsikan lagi untuk pengambilan sumpah, tepatnya pada tahun 1987. Namun, Bale Gede diakuinya tetap memiliki nuansa mistis yang kental.

“Terakhir itu ada yang disumpah, kalau tak salah lima orang. Waktu itu saya belum jadi juru kunci, salah satunya ada yang terbukti salah. Orang itu sakit-sakitan, tapi tidak parah. Karena ditolong juga sama orang desa sih,” kata Kalil.

Dia menceritakan Ki Bagus Rangin memiliki nama asli Pangeran Bagus Kerarangin. Saat melawan kolonial Belanda, sambungnya Ki Bagus Rangin menggunakan strategi perang Eyang Matangaji.

“Perang itu sekitar tahun 1805 hingga 1818, perang tersebut diakhiri dengan Perang Kedongdong. Salah satu peninggalannya bale ini. Desa ini juga diberi nama Kedongdong,” tutur Kalil.

Sumber: Detik.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here