Menguak Cerita Makam Tak Lazim di Tengah Jalan Kota Purwokerto

0
23

Warga Purwokerto tentu tak asing dengan bangunan tembok tua di tengah jalan di Kota Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah. Namun barangkali belum tidak mengetahui kalau bangunan tua permanen berukuran sekitar 1,5×2 meter itu adalah sebuah makam.

Lokasinya berada di tengah jalan, sebuah pertigaan di Jalan Raga Semangsang. Tempat itu berjarak sekitar 200 meter dari timur Alun-alun Kota Purwokerto, masuk Kelurahan Sokanegara, Kecamatan Purwokerto Timur.

Bangunan menggunakan tembok batu bata tebal seperti zaman dulu mengelilinginya. Ada satu pintu masuk kecil yang terbuat dari besi. Sedangkan di dalam terdapat bekas pembakaran dupa.

Ternyata itu di tengah bangunan itu ada satu makam. Tidak ada yang tahu secara persis itu makam tokoh siapa sebenarnya. Warga di sekitar tempat itu tidak tahu persis.

Namun ada pula warga yang mengatakan jika itu merupakan makam Ragasemangsang. Siapa Ragasemangsang itu juga tidak banyak warga yan mengetahui secara persis. Dalam Bahasa Jawa Ragasemangsang mengandung arti badan yang tersangkut di pohon.

Menurut banyak cerita lisan dari mulut ke mulut, makam Ragasemangsang dulunya adalah orang sakti. Dia tidak bisa mati selama dirinya masih menginjakkan kaki di atas tanah. Orang sakti tersebut baru dapat mati ketika dirinya digantung di atas pohon karena tidak menyentuh tanah lagi.

“Versi pertama itu ada mayat di pohon Beringin diturunkan dan dimakamkan di situ. Itu ada di zaman kerajaan orang yang sakti itu ketemu dengan Raden Pekih dan bertarung,” kata Karto Suwito (72), Ketua RT 3 RW 5 Sokanegara saat ditemui di rumahnya, Kamis (25/1/2018).

Karena kakinya masih menginjak tanah katanya, dia tidak bisa mati. Kemudian muncul versi cerita, baru bisa mati setelah digantung di atas pohon.

“Ragasemangsang dimakamkan di sini,” kata Karto Suwito.

Saat itu lanjut dia, Raden Pekih kalah oleh Ragasemangsang meskipun tubuhnya telah tercabik-cabik oleh senjata namun kembali menyatu setiap kali menyentuh tanah. Akibat kalah ilmu, akhirnya Raden Pekih tewas dalam adu kesaktian tersebut.

Menurut dia, makam tersebut sudah ada sejak ratusan tahun lalu, bahkan sejak dirinya bermukim di sekitar wilayah tersebut. Makam tersebut sudah ada dan banyak orang yang ziarah ke makam tersebut. Malah orang dari luar kota seperti Tasikmalaya dan Surabaya, serta warga Tionghoa yang datang ziarah. Bahkan hingga pejabat pun menurutnya pernah ada yang mendatangi makam tersebut.

“Kalau dari masyarakat lingkungan tidak pernah, justru yang pada datang itu orang luar kota, dari Tasikmalaya, dari Surabaya. Kalau di sini dulu itu orang Tionghoa yang sering masuk ke dalam untuk sowan,” katanya.

“Keistimewaannya itu, tapi untuk yang percaya. Meskipun jalan itu sibuk tapi tidak pernah terjadi kecelakaan, jadi seolah olah ada yang melindungi,” ujarnya.

Dia mengatakan jika makam tersebut sempat pernah akan dipindah. Namun rencana itu batal karena tak ada yang kuat memindahkannya dan akhirnya makam itu tetap berada di lokasi tersebut. Dia mengingat dulu makam tersebut dulu berada di pinggir jalan hingga dilakukan pelebaran, tapi makam tersebut tidak dipindah.

Selain itu, dirinya juga sempat mengetahui saat ada pengerjaan membuat galian saluran air yang melintasi makam untuk disalurkan ke perkampungan. Tiba-tiba salah satu pekerjanya langsung jatuh pingsan tidak sadarkan diri.

“Mungkin karena sudah tidak ada lagi juru kunci yang menjaga makam itu, jadi cerita pastinya tentang kebenaran siapa yang dimakamkan di situ tidak jelas. Dulu ada, tapi setelah juru kuncinya meninggal tidak ada lagi yang menuruni sebagai juru kunci termasuk anaknya,” ujarnya.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinporabudpar Kabupaten Banyumas, Deskart Jatmiko menambahkan jika ada beberapa versi cerita yang berkembang di masyarakat. Setidaknya terdapat tiga versi terkait makam tersebut. Versi pertama yang mengatakan ada hubungannya dengan cerita babat Kamandaka. Kemudian versi cerita Kyai Pekih. Ketiga, cerita tentang orang yang terjun payung jatuh sebelum kemerdekaan dan dimakamkan di lokasi tersebut.

“Dari beberapa versi yang berkembang dan didukung oleh cerita di masyarakat sekitar itu yang mendekati ya yang Kyai Pekih. Jadi itu ceritanya yang babat Kyai Pekih itu tarung sama garong yang sakti karena punya ajian Pancasona, sehingga matinya itu harus tidak kena tanah. Makanya terus digantung di pohon beringin, setelah mati baru dikubur di situ,” katanya.

Menurutnya bila dilihat dari segi bangunannya lebih mendekati jaman kolonial Belanda dengan batu bata tebal. Namun semua cerita tersebut juga bisa dikaitkan dengan pertarungan Kyai Pekih dengan garong sakti tersebut dan dimakamkan di lokasi itu. Pada saat ada pemindahan Pendopo Kabupaten dari Banyumas ke Purwokerto, makam tersebut kemudian dibuat permanen.

“Tapi setelah ada pemindahan pendopo itu diselamatkan. Di tengah jalan dulu di situ kan satu perkampungan yang sebelum Pendopo Sipanji pindah dari Banyumas ke Purwokerto. Kalau menurut orang Jawa ‘mbahnya tidak mau dipindah’ jadi cuma digeser dan dipagar saja,” ucapnya.

Dia menjelaskan, jika mempelajari dari sejarah Banyumas yang baru 447 tahun berdiri. Sedangkan Pendopo Kabupaten dari Banyumas dipindah ke Purwokerto baru sekitar 100 tahun lebih. Jika dilihat dari material bangunan yang digunakan untuk membangun makam Ragasemangsang kelihatannya material setelah zamam Belanda. Dengan demikian jika dilihat dari perpindahan pendopo Sipanji ke Purwokerto kemungkinan makam tersebut tidak ingin dipindah dan kemudian di tembok sehingga ada di tengah jalan.

“Di makam itu bukan nama orang, itu Ragasemangsang yang artinya raga yang temangsang jadi badannya itu digantung dan yang belum diketahui nama penjahatnya siapa itu. Tapi yang berkembang itu yang dimakamkan bukan tokoh yang berpengaruh saat zamannya,” kata dia.

Meskipun demikian, sejarah makam tersebut memang perlu digali lebih dalam karena banyak versi yang berkembang dan makam tersebut sudah masuk dalam situs cagar budaya yang perlu dijaga karena dilindungi oleh undang-undang termasuk pemeliharaannya.

“Itu masuk cagar budaya, apa yang sudah di atas 50 tahun itu dijaga, Undang-undangya ada. Kita punya cagar budaya sekitar 58 di Banyumas dan sudah didaftarkan ke provinsi termasuk pemeliharaaannya,” ucapnya.

Ia mengaku pihaknya sulit untuk menelusuri jejak sejarah makam tersebut dikarenakan juru kunci makam tersebut telah meninggal dan tidak mewariskannya kepada anak cucunya. Cerita terkait makam Ragasemangsang tersebut hilang tergerus perkembangan jaman.

“Banyak hilang karena pemahaman orang sudah berubah, terus secara turun temurun yang menjaga itu tidak ada dan tidak ada yang mau,” tuturnya.

Sumber: DETIK.COM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here